Jumat, 24 Juni 2016

Mencari Titik Persamaan dari Berbagai Perbedaan

Muqaddimah dan Materi 

Penduduk muslim di negara kita termasuk yang terbesar di dunia dari segi kuantitas. Di samping itu, heterogenitas muslim di negara kita sangatlah kaya dan beragam. Oleh karena itu, muslim di negara kita harus berkawan dan saling memahami; sebuah kelompok muslim harus berkawan dengan kelompok-kelompok muslim yang lain. Kalau muslim di negara kita tidak saling berkawan dan tidak memperkuat ukhuwah islamiyah, maka kekuatan dan potensi besar kaum muslimin Indonesia tidak bisa dimaksimalkan. Padahal jumlah penduduk muslim yang besar ini merupakan potensi untuk membangun peradaban dunia.

Bermusuhan itu abnormal, dan saling caci antar sesama muslim atau kelompok muslim akan melemahkan persatuan Islam. Bermusuhan itu menyakiti diri sendiri dan menghabiskan banyak energi; akhirnya umat Islam membuang-buang energi hanya untuk mempertahankan diri dari serangan kelompok Islam yang lain. Hal ini merupakan suatu dosa, karena menyakiti sesama muslim, serta membuang-buang waktu dan energi umat Islam untuk hal-hal yang tidak penting, padahal masih banyak pekerjaan besar yang harus dihadapi umat Islam. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Dan orang-orang yang menyakiti mukminin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” (Al-Ahzab: 58).

Bermusuhan apalagi dengan saudara sesama muslim, akan membuat suasana tidak nyaman, saling takut, saling curiga, dan hati tidak tenang. Biasanya orang atau kelompok yang saling bermusuhan akan menghalalkan segala cara untuk mempertahankan pendapatnya, dan pada saat yang bersamaan berusaha mencari-cari kesalahan lawannya. Allah berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 12 yang artinya: Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. 

Allah ta’ala juga memerintahkan orang-orang beriman untuk senantiasa berprasangka baik dan menjauhi prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sebagian dari dosa dan keburukan yang semestinya dihindari oleh orang-orang beriman. Berprasangka buruk kepada orang yang bukan Islam saja tidak diperbolehkan, apalagi dengan saudara sesama muslim, tentu lebih tidak diperbolehkan lagi. Di sisi lain, prasangka merupakan pintu masuk menuju sebuah permusuhan. Bayangkan saja ketika antar sesama muslim atau kelompok dalam Islam saling berprasangka; tentu akan merusak keharmonisan umat Islam, merusak ukhuwah is-lamiyah, dan mereduksi persatuan umat Islam. 
 

Rabu, 27 April 2016

Berkisah dalam Al-Qur’an

Ringkasan 

Salah satu rahasia mengapa sepertiga Al-Qur’an berisi kisah-kisah, karena metode berkisah pengaruhnya sangat dalam bagi jiwa, nasihat dan inspirasi yang mudah dikenang, pelajaran yang mudah diingat, teguran yang tidak menyakiti, dan bisa menjadi motivasi yang mudah dihadirkan kapan saja.

Kisah umat terdahulu banyak terdapat dalam Al-Qur’an pada periode Mekkah. Asy-Syaikh Manna’ bin Khalil Al-Qaththan dalam bukunya Mabahits fi ‘Ulumil Qur’an mengatakan bahwa salah satu ciri surat-surat Makkiyyah ialah setiap surat yang di dalamnya terdapat ki-sah para nabi dan umat terdahulu, kecuali surat Al-Baqarah. Hal ini mengandung arti bahwa fase Makkiyyah selama 13 tahun sangat banyak mengandung kisah.

Kurikulum Makkiyyah adalah fase pembentukan pondasi umat, yakni penanaman akidah dan akhlak. Dan kisah adalah metode yang efektif untuk menanamkan akidah dan akhlak. Di samping itu, sebagian besar persoalan di Mekkah, salah satu panduannya dengan kisah yang mengandung hikmah. Dengan demikian, pondasi awal generasi sahabat kebanyakan dibangun menggunakan metode kisah.

Kisah dapat dilihat dari dua sisi, yaitu: isi dan metode. Kisah sebagai isi, artinya bahwa kisah yang disampaikan adalah sejarah yang memang benar-benar terjadi yang kemudian diambil hikmahnya untuk kehidupan saat ini. Sedangkan kisah sebagai metode, artinya ilmu yang hendak diajarkan bisa disampaikan melalui metode kisah.

Selasa, 08 Desember 2015

Juragan Dunia Akhirat

Kaya dan Miskin 

Hidup kaya dan miskin (harta duniawi) adalah ketetapan Allah kepada para hambanya, ada orang yang ditakdirkan hidup miskin dan ada pula yang ditakdirkan jadi orang kaya. Kaya dan miskin dalam urusan duniawi, kedua-duanya tidak ada unsur cela dan hina. Baik si kaya atau si miskin bisa menjadikan orang mulia, pun bisa menjadi orang hina. Pendeknya, kaya dan miskin adalah bagian dari takdir Allah.

Selama ini kita mengenal takdir baik dan takdir buruk. Banyak orang beranggapan bahwa kaya adalah takdir baik dan miskin adalah takdir buruk. Padahal sesungguhnya, konsep takdir baik dan takdir buruk hanyalah sudut pandang bagi seorang hamba yang—katakanlah—kurang tepat. Kita menganggap sebuah takdir adalah baik atau buruk hanya perspektif kita semata. Padahal belum tentu apa yang kita anggap sebagai takdir buruk adalah sebuh keburukan bagi kita.

Semua takdir bagi seorang mukmin adalah baik. Rasulullah menjelaskan bahwa Allah tidak menetapkan takdir bagi seorang mukmin, melainkan pasti baik baginya (HR. Imam Ahmad). Jadi, baik hidup miskin ataupun kaya dalam urusan harta, bagi seorang mukmin kedua-duanya adalah takdir baik. Jika kita sering mendengar bahwa rukun iman yang keenam adalah beriman kepada takdir baik dan takdir buruk, maka yang dimaksud dengan takdir baik dan takdir buruk adalah dalam perspektif manusiawi. Pada hakikatnya segala sesuatu yang Allah takdirkan bagi hambanya yang beriman adalah baik.

Terdapat sebuah hadits yang cukup terkenal, mengatakan bahwa kefakiran hampir-hampir mendekatkan seseorang kepada kekufuran. Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, sanad hadits ini maudhu’ alias palsu. Di samping itu, secara makna juga bertentangan atau tidak sesuai dengan ajaran Islam, karena dalam Islam kemuliaan seseorang bukan diukur dari kefakiran ataupun kekayaan, tetapi dari ketakwaannya. Jadi, hadits ini tidak bisa diterima, baik secara riwayat ataupun makna. 

Jumat, 27 November 2015

Golongan yang Didoakan Malaikat

1. Bertaubat dan mengikuti jalan Allah

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Mu’min/Ghafir ayat 7 - 9 yang terjemahannya kurang lebih adalah sebagai berikut:

(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala,

Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,

Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar”.

Malaikat pemikul ‘arsy ada empat yang disebut malaikat muqarrabun, yaitu malaikat yang didekatkan kepada Allah. Disebutkan dalam hadits bahwa besarnya malaikat pemikul ‘arsy, jarak antara daun telinga sampai pundaknya adalah 700 tahun perjalanan menggunakan buraq.

Besarnya ‘arsy Allah diterangkan pula dalam hadits, bahwa tujuh lapis langit dan bumi jika dibandingkan dengan besarnya kursy Allah seperti halnya cincin di tengah-tengah lapangan yang luas. Sedangkan kursy Allah jika dibandingkan dengan besarnya ‘arsy Allah seperti sebuah cincin yang berada di tengah-tengah lapangan yang luas. 

Betapa besarnya makhluk ciptaan Allah, lalu bagaimana dengan kebesaran dan kekuasaan Allah. Kata Nabi, “Tafakkaru fi khalqillah wa laa tafakkaru fi dzatihi (HR. Abu Nu’aim). Artinya, berpikirlah pada ciptaan Allah, dan jangan berpikir tentang dzatnya Allah.

2. Tidur dalam keadaan suci atau wudhu

Kanjeng Sayyidina Muhammad pernah bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa, “Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci” (HR. Imam Ibnu Hibban).

Senin, 23 November 2015

Tentang Hari Kehancuran

Definisi 

As-saa’ah (hari kehancuran / the hour) adalah peristiwa hancurnya alam semesta setelah tiupan sangkakala pertama oleh malaikat isrofil atas kehendak Allah ta’ala.

Yaumul qiyamah (hari kiamat / resurrection day) adalah hari berbangkit (yaumul ba’ts), yakni bangkitnya manusia dari alam kubur setelah tiupan sangkakala kedua oleh malaikat isrofil atas kehendak Allah ta’ala.

Fitnah Akhir Zaman

Dari Abdullah bin Mas’ud, dari Nabi berkata bahwa ada empat fitnah akhir zaman yang akan dialami umat ini:

1. Dihalalkan darah
2. Dihalalkan harta
3. Dihalalkan kemaluan

Aisyah bertanya, “Apakah kaum muslimin akan binasa, padahal ada di antara mereka orang-orang shaleh?” Jawab Nabi, “Ya, jika zina sudah tak terkawal dan maksiat merajalela, maka bala/adzab akan turun”.

4. Zaman Dajjal, tanda-tanda Dajjal hampir muncul:
  1. Pertumpahan darah berlaku di kalangan umat Islam
  2. Dihalalkan riba
  3. Arak dihalalkan
  4. Zina dihalalkan
  5. Orang tidak mau belajar ilmu agama
  6. Orang tidak mau beramal dengan agama (sekularisme)
  7. Tanah diambil secara paksa
  8. Harga barang melambung tinggi

Selasa, 10 November 2015

Noda-Noda Cinta

Pengantar

Salah satu pondasi penting dalam beribadah adalah cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah adalah ruh dalam beribadah. Orang yang beribadah tanpa ada rasa cinta kepada Allah, maka akan kering spiritual dan hati seolah gersang. Sedangkan ibadah yang diiringi rasa cinta kepada Allah, maka akan terasa nikmat, hati seolah mendapat siraman air sejuk dari pegunungan yang hijau. Begitu pula orang yang hidup tanpa dipenuhi cinta, maka akan terasa kelam dalam menjalani hidupnya. Kekuatan cinta bisa mengatasi rasa malas, meringankan beban, dan melapangkan dada.

Saking pentingnya cinta, banyak para ulama yang menulis buku tentang cinta, salah satunya adalah buku Raudhatul Muhibbin (Taman Orang-Orang yang Jatuh Cinta) yang dikarang oleh Syaikh Ibnu Qayyim Al-Jauzi. Kata Syaikh Muhammad Quraish Shihab, cinta tidak bisa dilukiskan atau didefiniskan secara utuh lewat kata-kata, cinta hanya bisa dirasakan gejala-gejalanya saja. Kalaupun dibuat definisi tentang cinta, tentu akan banyak sekali definisi cinta dari orang yang mengalaminya.

Secara umum, cinta adalah ketergantungan hati kepada yang dicintai. Cinta akan membuat seseorang meninggalkan sesuatu yang dibenci oleh orang yang dicintai, dan melakukan sesuatu yang disukai oleh orang yang dicintai. Hal ini dijelaskan oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Para ulama juga mengatakan bahwa cinta itu ada yang asli dan palsu; ada cinta asli dan cinta palsu. Artinya, ada yang benar-benar cinta, tetapi ada pula yang hanya sekedar syahwat, bukan cinta yang sesungguhnya. 

Pembagian Cinta

Secara garis besar, cinta dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Cinta yang bersifat ibadah

Yaitu cinta yang diiringi pengagungan, penghambaan, kerendahan diri, dan ketaatan mutlak kepada Allah. Dan orang-orang yang beriman amat besar cintanya kepada Allah (Al-Baqarah: 165). Dalam ayat lain disebutkan bahwa Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang mereka bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin…(Al-Maidah: 54).

Cinta kepada Allah adalah puncak tertinggi dari cinta. Sebagian ulama menjelaskan bahwa ibadah itu harus dilandasi oleh tiga hal, yaitu: cinta (hubb), takut (khauf), dan harap (raja’). Ibarat seekor burung; rasa takut dan harap adalah kedua sayap, dan rasa cinta adalah kepalanya. Jadi, tidak mungkin seekor burung dapat hidup apalagi terbang tanpa adanya kepala. Oleh karena itu, kita harus senantiasa menghadirkan rasa cinta kepada Allah dalam beribadah, agar ibadah yang kita lakukan benar-benar hidup dan sampai kepada-Nya.

Rabu, 04 November 2015

Akrab dengan Ruqyah

Prolog

Kalau ingin mencari hidup tanpa ujian, cobaan, ataupun kesusahan bukan tempatnya di dunia. Hidup yang yang tanpa ujian hanyalah di surga. Dunia adalah tempatnya ujian dan cobaan.

Salah satu bentuk ujian hidup di dunia adalah adanya gangguan-gangguan yang bersifat ghaib dari bala tentara jin dan antek-anteknya. Bagi orang beriman, cara menghadapi perkara ghaib seperti ini adalah dengan mengikuti aturan agama dan tidak menyelisihinya. Solusi islami menghadapi gangguan-gangguan ghaib seperti ini adalah dengan “Ruqyah Syar’iyyah”.

Definisi Ruqyah

Secara etimologi, ruqyah adalah bacaan perlindungan. Setiap bacaan yang tujuannya untuk perlindungan diri dan pengobatan disebut ruqyah. Secara terminologi, ruqyah adalah bacaan perlindungan yang mengandung permintaan tolong kepada Allah untuk mencegah atau mengobati bala dan penyakit. Ruqyah islami tidak berbeda jauh dengan doa atau dzikir. Sifatnya bisa untuk pencegahan maupun pengobatan.

Landasan Historis

Di dalam hadits Imam Bukhari dijelaskan bahwa ruqyah sudah pernah dipraktekkan oleh Nabi Ibrahim untuk dua orang putranya. Rasulullah sendiri pernah meruqyah kedua cucunya Hasan dan Husain sebagaimana Nabi Ibrahim pernah meruqyah kedua putranya. 

Pada masa jahiliyah sebelum Sayyidina Muhammad diangkat menjadi Nabi, orang-orang jahiliyah juga meruqyah, akan tetapi dengan bacaan-bacaan atau mantra-mantra yang menyimpang dari ajaran Islam.

Rasulullah sendiri pernah meruqyah dirinya sendiri, seperti yang dikisahkan dalam hadits Imam Bukhari. Aisyah mengatakan bahwa Rasulullah pada saat berbaring sebelum tidur, mengumpulkan kedua tapak tangannya, kemudian membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas lalu menyemburkannya (meniup sembari mengeluarkan sedikit semburan), dan mengusapkannya pada bagian tubuh yang mampu dijangkaunya, hal ini dilakukan sebanyak tiga kali.

Kanjeng Nabi juga pernah diruqyah oleh Jibril sewaktu beliau disihir oleh seorang Yahudi yang bernama Labid bin A’sham. Malaikat Jibril turun dari langit, setelah berdialog dengan Nabi, kemudian Jibril meruqyahnya (HR. Imam Muslim). Sayyidina Muhammmad yang notabene seorang Nabi juga bisa terkena sihir, tentunya semua itu atas izin dan kehendak dari Allah. Tidak ada sesuatu yang terjadi melainkan semua atas kehendak Allah.

Nabi juga pernah meruqyah sebagian sahabat yang terkena penyakit kudis (HR. Imam Muslim). Rasulullah bahkan memerintahkan praktek ruqyah dan membenarkan ruqyah yang dilakukan oleh sahabat. Dalam hadits Asy-Syaikhani, Aisyah diperintah oleh Nabi untuk meruqyah penyakit ‘ain.